Kehidupan salaf · halaman 19
حفظ اللسان من كثرة الكلام: عن سعدون الرازي أنه قال: كنت مع حاتم الأصم رحمه الله وكان يتكلم، فقل كلامه فقيل له: قد كنت تتكلم فينتفع بك الناس؟ قال: إني لا أحب أن أتكلم بكلمة قبل أن أستعد جوابها لله، فإذا قال الله تعالى لي يوم القيامة: لم قلت كذا؟ قلت: يا رب لكذا. [المنتظم 11 / 255].
Cara membaca
Ḥifẓul-lisāni min kathratil-kalāmi: ʿAn Saʿdūnin ar-Rāzī annahu qāla: Kuntu maʿa Ḥātimin al-Aṣammi raḥimahullāhu wa kāna yatakallamu, faqalla kalāmuhu faqīla lahu: Qad kunta tatakallamu fayantafiʿu bikan-nās? Qāla: Innī lā uḥibbu an atakallama bikalimatin qabla an astaʿidda jawābahā lillāhi, fa-idhā qālallāhu taʿālā lī yawmal-qiyāmati: Lima qulta kadhā? Qultu: Yā rabbi likadhā. [Al-Muntaẓam 11/255].
Terjemahan Bahasa Indonesia
Menjaga lisan dari banyak bicara: Dari Sa‘dun ar-Razi, bahwa ia berkata: Aku bersama Hatim al-Ashamm, semoga Allah merahmatinya. Dahulu ia berbicara, kemudian bicaranya berkurang. Ditanyakan kepadanya: Dahulu engkau berbicara sehingga orang-orang memperoleh manfaat darimu? Ia menjawab: Aku tidak suka mengucapkan suatu kata sebelum menyiapkan jawabannya kepada Allah. Jika Allah Yang Mahatinggi berkata kepadaku pada hari kiamat, “Mengapa engkau berkata demikian?”, aku menjawab: Wahai Tuhan, karena demikian. [Al-Muntazham 11/255].
Sumber: Nasihat dan renungan; atribusi mengikuti kartu sumber (Kehidupan salaf · halaman 19). Ayat dan riwayat yang dikutip mengikuti rujukan dalam teks asal.